Posted in Uncategorized

Guru yang Membunuh Keingintahuan Siswa

 

teacher

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, saya berangkat ke sekolah dengan penuh semangat. Apa yang membuat saya begitu bersemangat? Hari ini ada pelajaran Biologi! Ditambah lagi kelas saya memasuki bab tentang reproduksi sel. Segala sesuatu yang berhubungan dengan sel membuat saya bersemangat. Ketika kelas dimulai, mata saya langsung berbinar-binar.

Hari itu adalah hari dimana kami harus mempresentasikan hasil diskusi kami. Kelompok saya mendapat jatah untuk membahas anafase. Setiap perwakilan kelompok disuruh maju untuk presentasi. Saya lalu ditunjuk oleh teman-teman sekelompok untuk maju. Mentang-mentang saya pernah ikut OSK Biologi nih…

Saya pun maju, lalu bergantian dengan kelompok yang lain. Begitu presentasi selesai, guru kami memberi penjelasan lebih lanjut. Kemudian beliau berkata, “Ada yang ingin bertanya?”

Didorong rasa keingintahuan, saya mengangkat tangan. “Pada anafase, benang-benang sentriol menarik pasangan kromosom sehingga terjadi pemisahan. Apa yang mendasari mekanisme tersebut?”

Seisi kelas terdiam. Guru saya pun terdiam. Saya menanti dengan hati berdebar-debar.

Kemudian, guru tersebut menjawab, “Pertanyaan kamu konyol sekali.”

Hati saya hancur berkeping-keping. Dalam sekejap keingintahuan saya terbunuh.

Apa yang pernah saya alami mungkin juga terjadi pada siswa lain. Para siswa yang dituntut untuk mengembangkan keingintahuan di tengah krisis ilmuwan yang melanda Indonesia justru dibunuh oleh guru mereka sendiri. Entah apa yang menyebabkan guru-guru dapat membunuh muridnya sendiri. Mungkin mereka merasa sudah tahu segalanya atau terdorong rasa gengsi ketika disodorkan pertanyaan yang mereka tak tahu jawabannya.

Seharusnya guru tidak memposisikan diri mereka sebagai orang yang paling tahu di kelas. Mereka harus memposisikan diri mereka sejajar dengan murid mereka, yakni sebagai orang-orang yang sama-sama belajar ilmu. Seorang peneliti memutuskan untuk menjadi peneliti karena ada yang tidak mereka ketahui, bukan karena mereka merasa pintar apalagi tahu segalanya. (SRNT)

Posted in Artikel Kesehatan

Apa itu Keperawanan?

 

Masih ingat dengan peristiwa perceraian antara seorang bupati dengan mantan istrinya yang saat itu masih berumur 18 tahun? Masalah perceraian bukanlah hal yang terlalu mengejutkan mengingat banyak artis yang bercerai. Tetapi, bukan perceraian yang membuat nama bupati tersebut melambung, melainkan alasannya melayangkan gugatan cerai. Pak Bupati menggugat mantan istrinya karena saat mereka melakukan malam pertama si istri tidak ‘mengeluarkan’ darah! Rupanya Pak Bupati merasa tertipu karena si perempuan mengaku masih perawan. Dia berpikir, “Ngakunya perawan, kok tidak ada darah?!”

Saya tertawa ketika pertama kali melihat berita tersebut di televisi. Ternyata masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak tahu apa itu perawan. Kasihan para perempuan.

Dalam istilah kedokteran, istilah perawan (virgin) ditujukan kepada orang yang belum pernah melakukan hubungan seksual. Bukan orang yang ketika berhubungan seksual mengeluarkan darah. Keperawan tidak ada sangkut pautnya dengan darah. Masalah jadi bertambah runyam ketika selaput dara (himen) dijadikan patokan keperawanan seorang perempuan.

Sebetulnya, apa itu selaput dara?  Continue reading “Apa itu Keperawanan?”