Posted in Uncategorized

Mengapa Jantung Berdetak?

 

Overview

Jantung berfungsi memompa darah ke bagian-bagian tubuh lain. Detak jantung dapat menyatakan bagaimana jantung kita bekerja. Detak normal—kerja normal. Detak terlalu cepat—jantung bekerja terlalu keras, begitu juga sebaliknya. Lalu, mengapa jantung bisa berdetak?

Detak jantung disebabkan oleh adanya kontraksi otot-otot jantung. Kontraksi ini sendiri timbul akibat adanya proses depolarisasi membran yang berperan dalam cardiac conduction system atau sistem konduksi jantung.

 

Cardiac Conduction System

CCS merupakan kelompok sel-sel otot jantung yang menyusun dinding jantung dan terdiri atas lima komponen, yakni nodus sinoatrial (nodus SA), nodus atrioventrikular (nodus AV), serabut Hiss, percabangan serabut Hiss, dan serabut Purkinje

Nodus Sinoatrial

Seperti yang sudah disebutkan di awal, kontraksi jantug disebabkan oleh adanya depolarisasi membran. Proses depolarisasi ini ditimbulkan oleh nodus sinoatrial, sel otot jantung turunan dari sinus venosus. Nodus SA berperan sebagai pacemaker (penjaga ritme) jantung dengan memproduksi impuls depolarisasi pada ritme-ritme tertentu.

Ketika otot jantung berelaksasi, sel-sel otot jantung terpolarisasi, yang berarti setiap sel bermuatan listrik negatif dan lingkungan luar sel bermuatan listrik positif. Sel akan terdepolarisasi seiring dengan keluarnya atom negatif melalui membran sel. Proses depolarisasi ini menimbulkan listrik (dengan arus yang sangat kecil, tentunya) pada jantung. Listrik tersebut akan menyebar ke atrium kanan dan atrium kiri secara bersama-sama dan menyebabkan kontraksi atrium.

ccs-1 ccs-2

Nodus Atrioventrikular

Nodus AV terletak di tengah-tengah jantung, lebih tepatnya di antara atrium dan ventrikel. Nodus AV berperan sebagai gerbang yang memperlambat sinyal listrik sebelum sinyal tersebut masuk ke ventrikel. Perlambatan ini disebabkan oleh jaringan konektif yang memisahkan atrium dengan ventrikel. Jaringan konektif sendiri tidak bisa mentransmisikan depolarisasi.

Perlambatan tersebut menyebabkan suatu delay sehingga atrium dapat menyelesaikan proses kontraksi dan ‘memindahkan’ darah dari atrium ke ventrikel sebelum ventrikel berkontraksi.

ccs-3

Serabut Hiss dan Serabut Purkinje

Dari nodus AV, gelombang depolarisasi terkonduksi di kedua ventrikel oleh kumpulan serabut atrioventrikular atau yang biasa disebut dengan serabut Hiss. Dari serabut Hiss, listrik akan dialirkan ke percabangan serabut Hiss, lalu ke serabut Purkinje.

Konduksi cepat di sepanjang serabut Hiss dan serabut Purkinje ini menyebabkan kontraksi simultan pada ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Ritme tersebut dapat meningkat atau menurun, tergantung pada regulasi neural atau hormon epinefrin.

ccs-4

Electrocardiogram (ECG)

Penyebaran aktivitas elektrik pada jantung menimbulkan arus yang dapat dicatat dari permukaan tubuh yang ditempeli elektroda yang ditempatkan di dada. Pencatatan ini dilakukan oleh alat elektrokardiogram atau ECG. ECG menunjukkan bagaimana sel-sel jantung terdepolarisasi dan terpolarisasi selama CCS. Depolarisasi menimbulkan kontraksi otot jantung, sedangkan repolarisasi menyebabkan relaksasi jantung.

Puncak P dihasilkan oleh depolarisasi atrium dan diasosiasikan dengan sistol atrium. Puncak QRS dihasilkan oleh depolarisasi ventrikel. Proses ini terjadi ketika ventrikel berkontraksi dan mengalirkan darah ke arteri. Puncak terakhir, T, diproduksi oleh repolarisasi ventrikel dan diasosiasikan dengan diastol.

ecg-grafik

 

 

Sumber:

Johnson, Raven. Biology 6th edition.

http://www.clevelandclinic.org

Advertisements

Author:

introvert, author, pluviophile.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s