Posted in Esai, Perpajakan, PKN STAN

Penyebab, Dasar, dan Efektivitas Penagihan Pajak

Menurut Pasal 1 ayat (9) UU Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, penagihan pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan dan menjual barang yang telah disita.

Alur Penagihan Pajak

Penagihan pajak dimulai dengan diterbitkannya Surat Teguran atau surat peringatan lain tujuh hari setelah jatuh tempo pelunasan utang pajak yang tertera dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, atau surat ketetapan lain. Jika Wajib Pajak tidak melunasi utang pajaknya dalam waktu dua puluh satu hari setelah diterbitkan Surat Teguran atau surat peringatan lain, Direktorat Jenderal Pajak akan menerbitkan Surat Paksa.

Selain untuk menindaklanjuti penerbitan Surat Teguran atau surat peringatan lain, penerbitan Surat Paksa dapat dilakukan untuk menindaklanjuti penagihan seketika dan sekaligus atau pelanggaran ketentuan dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak oleh Wajib Pajak.

Surat Paksa yang telah diterbitkan harus dilunasi oleh Penanggung Pajak dalam waktu dua kali dua puluh empat jam. Jika dalam jangka waktu tersebut utang pajak tidak dilunasi, Direktorat Jenderal Pajak berhak menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP). Penyitaan dilakukan untuk menguasai barang milik Penanggung Pajak guna dijadikan jaminan pelunasan utang pajak.

Setelah penyitaan, alur berikutnya adalah pengumuman lelang yang dilaksanakan paling lambat empat belas hari setelah penyitaan. Kemudian ada pelaksanaan lelang yang dilaksanakan paling lambat empat belas hari setelah pengumuman lelang.  Continue reading “Penyebab, Dasar, dan Efektivitas Penagihan Pajak”

Posted in Artikel Kesehatan, Esai

Stem Cell—Jawaban akan Kebutuhan Cangkok Organ?

Pada tahun 2015, publik dikejutkan dengan berita penjualan organ tubuh secara ilegal yang disiarkan di televisi. Rata-rata korban yang menjual organ tubuh mereka melakukan hal tersebut karena desakan ekonomi. Organ mereka dibeli seharga kurang lebih 70 juta. Padahal setelah operasi pengangkatan organ, masih ada perawatan pascaoperasi yang biayanya mencapai 300 juta. Belum juga efek samping seperti badan mudah lemas akibat ginjal berkurang satu.

Jika dipikir-pikir, akar permasalahan dari kasus jual-beli organ tubuh ini adalah kebutuhan cangkok organ yang begitu besar dan tidak diimbangi dengan ketersediaan donor organ. Menurut data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan AS, jumlah orang yang membutuhkan donor organ  di Amerika Serikat mencapai lebih dari 120.000, sedangkan donor yang tersedia jumlahnya kurang dari 20.000.

Sepertinya kita tidak bisa terus bergantung pada ketersediaan donor organ. Jikalau pun ada donor organ yang tersedia, organ tersebut belum tentu cocok dengan tubuh kita. Salah-salah malah terjadi penolakan oleh sel-sel tubuh.  Continue reading “Stem Cell—Jawaban akan Kebutuhan Cangkok Organ?”