Impresi: Noragami

Noragami_1_cover_IND

“I’m delivery god Yato!” — Yato

Tak banyak yang tahu eksistensi anime Noragami, apalagi komiknya. Anime-nya kalah populer dengan Nisekoi dan Chuunibyo yang tayang berbarengan dan manga-nya, yang diterbitkan oleh Kodansha, masih tertinggal di belakang Ajin dan Prison School. Terlepas dari betapa underappreciated-nya Noragami, Adachitoka telah melakukan pekerjaan yang sangat baik.

Noragami berpusat pada kisah tentang Yato, seorang dewa minor yang sama sekali tidak terkenal. Ia miskin, tidak punya pengikut dan kuil pribadi, dan baru saja kehilangan senjata dewanya. Masalah bertambah ketika ia secara tidak sengaja bertemu dengan Iki Hiyori, seorang siswi SMP biasa, dan mengubah gadis tersebut menjadi setengah ayakashi.

Semesta dewa-dewi dalam mitologi Jepang bukanlah sesuatu yang asing di dunia manga. Penggunaan senjata dewa pun dapat dijumpai di komik-komik lain, seperti Soul Eater. Yang membedakan karya Adachitoka dengan komik-komik lain adalah penulisan cerita yang rapi dan dilengkapi dengan karakterisasi yang mendalam serta menarik.  Continue reading “Impresi: Noragami”

Advertisements

Impresi: Lelaki Harimau

lelaki-harimau

“Bukan aku,” kata Margio tenang dan tanpa dosa. “Ada harimau dalam tubuhku.”

Saya masih ingat sensasi yang pertama kali saya rasakan ketika membaca paragraf pembuka novel karya Eka Kurniawan ini. Seketika badan saya membeku dan mata saya langsung terbuka lebar-lebar. Begitulah kiranya pembuka yang ditawarkan Eka Kurniawan: lugas dan tangkas. Mengutip pendapat The New York Times, Kurniawan mengungkapkan pembunuh dan korbannya dalam satu kalimat di awal novel. Saya belum pernah menemukan model pembuka novel semacam itu di novel-novel lain, bahkan dalam novel misteri sekalipun.

Lelaki Harimau bercerita tentang Margio, seorang pemuda yang membunuh tetangganya, Anwar Sadat, dengan cara paling bengis dan primitif. Tetapi bukan pembunuhan itu yang menjadi center novel ini, melainkan kilasan-kilasan balik para tokoh yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan tersebut. Novel ini bukan novel macam Poirot atau Holmes yang termasuk jenis crime novel. Lelaki Harimau sama sekali tidak peduli pada sudut pandang kriminalitas—ia hanya melihat lewat kaca mata psikologis para tokohnya.  Continue reading “Impresi: Lelaki Harimau”

Impresi: Ascension

20170901_210129

CD yang membuat pintar” berjudul “Trigger” menjadi tren di kalangan siswa SMP dan SMA. Namun, mereka yang mendengarnya mulai mengalami kejadian aneh dan bertindak aneh.

Sinopsis di atas merupakan modal nekat saya dalam membeli Ascension. Saya bilang nekat karena sebelumnya belum pernah mendengar judul komik tersebut maupun mangaka-nya, Mizuki Watanabe.

Ascension dibuka dengan menawarkan sebuah premis yang menarik: adanya suatu software musik bernama Trigger yang dapat membuat siswa-siswa mendadak cerdas. Entah darimana munculnya Trigger ini, tetapi kemunculannya memicu kegegeran di kalangan anak-anak SMA. Selain efek ‘jenius mendadak’ yang dimunculkannya, belakangan banyak pengguna Trigger yang tiba-tiba menghilang. Salah satu siswa yang menghilang adalah Hayato. Hal ini membuat Chitose memutuskan untuk menyelidiki hilangnya Hayato.  Continue reading “Impresi: Ascension”

Impresi: 1Q84

 

1Q84

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik. Luka tidak selalu mengeluarkan darah.

Apa yang Anda bayangkan ketika pertama kali melihat sebuah novel berjudul 1Q84? Mungkin Anda membayangkan sebuah cerita fiksi saintifik berbalut teori konspirasi atau cerita bertema dunia mata-mata. Tetapi, percayalah, Anda takkan mampu membayangkan apapun ketika membaca novel buatan Haruki Murakami ini.

Bab pertama novel ini membawa saya pada bayangan kehidupan seorang pembunuh bayaran. Seketika Anda membayangkan cerita bertema kriminal. Lalu, saya tiba pada bab kedua dan tiba-tiba menemui tokoh kedua dengan sisi kehidupan yang sangat berbeda dengan tokoh pertama. Kedua tokoh tersebut menjalani kehidupan yang sangat drastis perbedaannya hingga saya tidak mampu menemukan pertalian keduanya. Membaca 1Q84 sama seperti membaca dua novel yang berbeda—setidaknya itulah yang saya rasakan hingga saya mencapai pertengahan buku.  Continue reading “Impresi: 1Q84”

Impresi: Dari KPBJ hingga Intelegensi Embun Pagi

Saya mengenal Supernova untuk yang pertama kalinya lewat Partikel dua tahun lalu. Setelah Partikel, barulah saya membaca KPBJ, Akar, dan Petir dalam waktu yang berdekatan. Reaksi saya setelah baca Supernova 1-4: DEE IS AMAZING.

Kalau boleh saya bilang, Dee membuka genre baru dalam dunia sastra di Indonesia, yakni scifi-spiritualism. Saya begitu menyukai Supernova 1-4 karena kedalaman ceritanya. Tak hanya itu, Dee juga menggali masing-masing karakter dengan sangat baik. Tapi setelah membaca Gelombang, rasanya kedalaman itu tidak lagi ada.

 

[SPOILER ALERT. Responsibility is in your hand.]

Continue reading “Impresi: Dari KPBJ hingga Intelegensi Embun Pagi”