Posted in Impresi

Impresi: 1Q84

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik. Luka tidak selalu mengeluarkan darah.

1Q84

Apa yang Anda bayangkan ketika pertama kali melihat sebuah novel berjudul 1Q84? Mungkin Anda membayangkan sebuah cerita fiksi saintifik berbalut teori konspirasi atau cerita bertema dunia mata-mata. Tetapi, percayalah, Anda takkan mampu membayangkan apapun ketika membaca novel buatan Haruki Murakami ini.

Bab pertama novel ini membawa saya pada bayangan kehidupan seorang pembunuh bayaran. Seketika Anda membayangkan cerita bertema kriminal. Lalu, saya tiba pada bab kedua dan tiba-tiba menemui tokoh kedua dengan sisi kehidupan yang sangat berbeda dengan tokoh pertama. Kedua tokoh tersebut menjalani kehidupan yang sangat drastis perbedaannya hingga saya tidak mampu menemukan pertalian keduanya. Membaca 1Q84 sama seperti membaca dua novel yang berbeda—setidaknya itulah yang saya rasakan hingga saya mencapai pertengahan buku.  Continue reading “Impresi: 1Q84”

Posted in Impresi

(Impresi) Dari KPBJ hingga Intelegensi Embun Pagi

Saya mengenal Supernova untuk yang pertama kalinya lewat Partikel dua tahun lalu. Setelah Partikel, barulah saya membaca KPBJ, Akar, dan Petir dalam waktu yang berdekatan. Reaksi saya setelah baca Supernova 1-4: DEE IS AMAZING.

Kalau boleh saya bilang, Dee membuka genre baru dalam dunia sastra di Indonesia, yakni scifi-spiritualism. Saya begitu menyukai Supernova 1-4 karena kedalaman ceritanya. Tak hanya itu, Dee juga menggali masing-masing karakter dengan sangat baik. Tapi setelah membaca Gelombang, rasanya kedalaman itu tidak lagi ada.

 

[SPOILER ALERT. Responsibility is in your hand.]

Continue reading “(Impresi) Dari KPBJ hingga Intelegensi Embun Pagi”