Impresi: 1Q84

 

1Q84

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik. Luka tidak selalu mengeluarkan darah.

Apa yang Anda bayangkan ketika pertama kali melihat sebuah novel berjudul 1Q84? Mungkin Anda membayangkan sebuah cerita fiksi saintifik berbalut teori konspirasi atau cerita bertema dunia mata-mata. Tetapi, percayalah, Anda takkan mampu membayangkan apapun ketika membaca novel buatan Haruki Murakami ini.

Bab pertama novel ini membawa saya pada bayangan kehidupan seorang pembunuh bayaran. Seketika Anda membayangkan cerita bertema kriminal. Lalu, saya tiba pada bab kedua dan tiba-tiba menemui tokoh kedua dengan sisi kehidupan yang sangat berbeda dengan tokoh pertama. Kedua tokoh tersebut menjalani kehidupan yang sangat drastis perbedaannya hingga saya tidak mampu menemukan pertalian keduanya. Membaca 1Q84 sama seperti membaca dua novel yang berbeda—setidaknya itulah yang saya rasakan hingga saya mencapai pertengahan buku.  Continue reading “Impresi: 1Q84”

Advertisements

Efektivitas Penagihan Pajak melalui Surat Paksa

Direktorat Jenderal Pajak selalu menetapkan target pencairan piutang pajak setiap tahun. Berdasarkan Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Pajak tahun 2015, target pencairan piutang pajak adalah Rp20 triliun dan realisasi pencairannya hanya Rp13,6 triliun. Ini berarti tingkat realisasi pencairan piutang pajak pada 2015 hanya 69,8%. Pencairan tersebut mencakup pencairan piutang melalui Surat Teguran, Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, pelelangan, pemblokiran, pencegahan, dan penyanderaan.

Efektif atau tidaknya penagihan pajak melalui Surat Paksa sangat menentukan efektivitas siklus penagihan pajak secara keseluruhan. Bila penerbitan Surat Paksa tidak efektif, siklus penagihan pajak akan menjadi semakin panjang. Tentu hal tersebut akan berimbas pada makin banyaknya waktu yang dibutuhkan dalam proses pencairan piutang pajak serta menambah biaya penagihan.

Untuk mengetahui efektivitas penerbitan Surat Paksa, penulis telah menghimpun sejumlah data mengenai jumlah penerbitan dan pencairan Surat Paksa dari beberapa Kantor Pelayanan Pajak.

efektivitas1efektivitas2 Continue reading “Efektivitas Penagihan Pajak melalui Surat Paksa”

Perspektif: Menunda Kuliah?

Rata-rata lulusan SMA/SMK/MA ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Dan hampir semuanya ingin langsung kuliah setelah lulus. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang memutuskan untuk menunda kuliah?

COLLEGE

Sekarang Kuliah Dimana?

Dua tahun yang lalu, saya lulus dari suatu SMA di Negeri Ngapak. Sebagaimana keinginan mayoritas lulusan SMA, saya ingin segera kuliah tahun itu juga. Tidak tanggung-tanggung, saya mengincar fakultas kedokteran. Sayangnya, mimpi saya untuk kuliah di fakultas kedokteran kandas. Saya gagal di SNMPTN, SBMPTN, dan UM UNSOED. Seketika saya bengong, “Terus gue harus ngapain????”  Continue reading “Perspektif: Menunda Kuliah?”

Serba-serbi PKN STAN

 

Memasuki awal tahun, siswa-siswi kelas XII pasti tengah disibukkan dengan try out UN, ujian praktik, persiapan ujian sekolah, hingga yang paling bikin pusing: menentukan langkah selanjutnya setelah lulus SMA/SMK/MA!

Ada yang ingin melanjutkan ke universitas, baik negeri maupun swasta, politeknik atau akademi bagi mereka yang tidak mau kelamaan belajar (hehe), atau yang memilih pilihan ketiga, yakni tidak melanjutkan pendidikan. Nah, bagi kalian adik-adik kelas XII yang masih bingung, saya menghadirkan artikel khusus tentang kampus saya, Politeknik Keuangan Negara STAN.

Sekadar informasi saja, kini saya berstatus sebagai mahasiswi Program Diploma 1 Perpajakan PKN STAN. Saya adalah lulusan SMA tahun 2015, tetapi baru berkuliah di tahun 2016 karena berbagai macam hal yang terjadi (baca: stres karena ditolak Fakultas Kedokteran).

jbz69shp

Overview

Kampus PKN STAN terletak di daerah Bintaro dan Rawamangun. Selain di Jakarta, PKN STAN juga tersebar di daerah-daerah dari Sumatera hingga Sulawesi melalui Balai Diklat Keuangan.

Ada 10 Program Diploma (Prodip) yang terdapat di PKN STAN, yakni:

  1. Prodip 1 Perpajakan
  2. Prodip 3 Perpajakan
  3. Prodip 3 PBB/Penilai
  4. Prodip 3 Akuntansi
  5. Prodip 1 Kepabeanan dan Cukai
  6. Prodip 3 Kepabeanan dan Cukai
  7. Prodip 1 Kebendaharaan Negara
  8. Prodip 3 Kebendaharaan Negara
  9. Prodip 3 Managemen Aset
  10. Prodip 4 Akuntansi (baru dibuka tahun ini)

Continue reading “Serba-serbi PKN STAN”

Mengapa Jantung Berdetak?

 

Overview

Jantung berfungsi memompa darah ke bagian-bagian tubuh lain. Detak jantung dapat menyatakan bagaimana jantung kita bekerja. Detak normal—kerja normal. Detak terlalu cepat—jantung bekerja terlalu keras, begitu juga sebaliknya. Lalu, mengapa jantung bisa berdetak?

Detak jantung disebabkan oleh adanya kontraksi otot-otot jantung. Kontraksi ini sendiri timbul akibat adanya proses depolarisasi membran yang berperan dalam cardiac conduction system atau sistem konduksi jantung.

 

Cardiac Conduction System

CCS merupakan kelompok sel-sel otot jantung yang menyusun dinding jantung dan terdiri atas lima komponen, yakni nodus sinoatrial (nodus SA), nodus atrioventrikular (nodus AV), serabut Hiss, percabangan serabut Hiss, dan serabut PurkinjeContinue reading “Mengapa Jantung Berdetak?”

Stem Cell—Jawaban akan Kebutuhan Cangkok Organ?

Pada tahun 2015, publik dikejutkan dengan berita penjualan organ tubuh secara ilegal yang disiarkan di televisi. Rata-rata korban yang menjual organ tubuh mereka melakukan hal tersebut karena desakan ekonomi. Organ mereka dibeli seharga kurang lebih 70 juta. Padahal setelah operasi pengangkatan organ, masih ada perawatan pascaoperasi yang biayanya mencapai 300 juta. Belum juga efek samping seperti badan mudah lemas akibat ginjal berkurang satu.

Jika dipikir-pikir, akar permasalahan dari kasus jual-beli organ tubuh ini adalah kebutuhan cangkok organ yang begitu besar dan tidak diimbangi dengan ketersediaan donor organ. Menurut data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan AS, jumlah orang yang membutuhkan donor organ  di Amerika Serikat mencapai lebih dari 120.000, sedangkan donor yang tersedia jumlahnya kurang dari 20.000.

Sepertinya kita tidak bisa terus bergantung pada ketersediaan donor organ. Jikalau pun ada donor organ yang tersedia, organ tersebut belum tentu cocok dengan tubuh kita. Salah-salah malah terjadi penolakan oleh sel-sel tubuh.  Continue reading “Stem Cell—Jawaban akan Kebutuhan Cangkok Organ?”

Guru yang Membunuh Keingintahuan Siswa

 

teacher

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, saya berangkat ke sekolah dengan penuh semangat. Apa yang membuat saya begitu bersemangat? Hari ini ada pelajaran Biologi! Ditambah lagi kelas saya memasuki bab tentang reproduksi sel. Segala sesuatu yang berhubungan dengan sel membuat saya bersemangat. Ketika kelas dimulai, mata saya langsung berbinar-binar.

Hari itu adalah hari dimana kami harus mempresentasikan hasil diskusi kami. Kelompok saya mendapat jatah untuk membahas anafase. Setiap perwakilan kelompok disuruh maju untuk presentasi. Saya lalu ditunjuk oleh teman-teman sekelompok untuk maju. Mentang-mentang saya pernah ikut OSK Biologi nih…

Saya pun maju, lalu bergantian dengan kelompok yang lain. Begitu presentasi selesai, guru kami memberi penjelasan lebih lanjut. Kemudian beliau berkata, “Ada yang ingin bertanya?”

Didorong rasa keingintahuan, saya mengangkat tangan. “Pada anafase, benang-benang sentriol menarik pasangan kromosom sehingga terjadi pemisahan. Apa yang mendasari mekanisme tersebut?”

Seisi kelas terdiam. Guru saya pun terdiam. Saya menanti dengan hati berdebar-debar.

Kemudian, guru tersebut menjawab, “Pertanyaan kamu konyol sekali.”

Hati saya hancur berkeping-keping. Dalam sekejap keingintahuan saya terbunuh.

Apa yang pernah saya alami mungkin juga terjadi pada siswa lain. Para siswa yang dituntut untuk mengembangkan keingintahuan di tengah krisis ilmuwan yang melanda Indonesia justru dibunuh oleh guru mereka sendiri. Entah apa yang menyebabkan guru-guru dapat membunuh muridnya sendiri. Mungkin mereka merasa sudah tahu segalanya atau terdorong rasa gengsi ketika disodorkan pertanyaan yang mereka tak tahu jawabannya.

Seharusnya guru tidak memposisikan diri mereka sebagai orang yang paling tahu di kelas. Mereka harus memposisikan diri mereka sejajar dengan murid mereka, yakni sebagai orang-orang yang sama-sama belajar ilmu. Seorang peneliti memutuskan untuk menjadi peneliti karena ada yang tidak mereka ketahui, bukan karena mereka merasa pintar apalagi tahu segalanya. (SRNT)