Impresi: Ave Maryam

Seorang perempuan kalem yang bertemu lelaki tampan yang menarik dan mampu menawan hati akan menjadi premis yang sangat klise apabila konteks karakternya bukanlah suster dan pastor. Ave Maryam mengangkat premis ini dengan atmosfer kekristenan dan karenanya menjadi napas baru di industri perfilman Indonesia.

Suster Maryam (Maudy Koesnaedy) sedang bertugas di sebuah kesusteran sebagai perawat suster-suster senior ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) datang untuk membantu mereka di gereja. Maryam menyambutnya secara biasa, namun Romo Yosef memang berbeda. Ia menggulung lengan kemejanya hingga siku, mengajar musik dengan begitu bergairah, menyetel musik dan mengajak suster-suster senior berdansa.

Menonton Ave Maryam mengingatkan saya pada In The Mood for Love. Dialognya minimalis. Gaya berceritanya sangat implisit. Orang-orang mungkin akan bosan menontonnya, atau bahkan tidak mengerti, tetapi justru gaya implisit seperti inilah yang membuat Ave Maryam bekerja dengan sangat baik. Dipadukan dengan penggunaan warna-warna pastel, Ave Maryam berhasil memunculkan atmosfer yang sangat kudus. Kita tak perlu lagi membicarakan kualitas akting di sini. Continue reading “Impresi: Ave Maryam”

Advertisements

Impresi: Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Industri perfilman Indonesia hampir selalu didominasi oleh horor, romens, dan komedi. Menyaksikan sebuah film tentang pembunuh wanita dengan latar belakang Sumba menjadi suatu pengalaman menarik dan magis.

Marlina (Marsha Timothy) baru saja ditinggal mati suaminya ketika Markus (Egy Fedly) mendatangi rumahnya dan memberitahu bahwa kawan-kawannya akan datang dalam tiga puluh menit untuk merampok Marlina. Namun, Marlina berhasil meracun kawan-kawan Markus dan memenggal kepala Markus ketika lelaki itu memperkosanya. Ia lantas meninggalkan rumahnya sambil membawa kepala Markus untuk mencari keadilan.

Premis tidak biasa untuk ukuran film Indonesia ini terdengar seperti Kill Bill. Tetapi Mouly Surya bukan Tarantino dan saya bersyukur film ini tidak menjadi versi lokal Kill Bill. Continue reading “Impresi: Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak”

Impresi: Kafir—Bersekutu dengan Setan

Tak dinyana, kehadiran dan kesuksesan Pengabdi Setan (2017) membuat industri perfilman tanah air berbondong-bondong membikin film horor. Mayoritas gagal melampaui standar kualitas yang ditetapkan Pengabdi Setan, termasuk Kafir: Bersekutu dengan Setan, meski telah mengambil tone dan nuansa yang sama.

Kafir diawali dengan kematian Herman (Teddy Syach) yang begitu tiba-tiba dan membuat keluarganya terombang-ambing dalam kecurigaan. Kecurigaan tersebut berubah menjadi ketakutan ketika Sri (Putri Ayudya), istri Herman, diteror oleh suatu kekuatan gaib. Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina) pun berusaha mati-matian untuk mencegah hal serupa terjadi pada ibu mereka.

Sejak awal dibuka, saya merasa kematian Herman datang terlalu tiba-tiba. Tanpa adanya perkenalan lebih dahulu, saya dipaksa untuk bersimpati kepada Sri dan anak-anaknya atas kematian Herman. Saya pun tidak dapat menghayati hubungan Andi dengan keluarganya, terutama setelah kedatangan pacarnya, Hanum (Indah Permatasari).  Continue reading “Impresi: Kafir—Bersekutu dengan Setan”

Seri PPh: Subjek Pajak

Sebagai salah satu follower @DitjenPajakRI di Twitter, terkadang saya dibuat gemas oleh komentar-komentar netizen terkait perpajakan. Rupanya masih banyak yang belum mengerti aspek perpajakan, terutama Pajak Penghasilan alias PPh. Karena hal inilah saya membuat postingan khusus yang membahas tentang pengantar PPh. Untuk artikel kali ini, saya akan membahas tentang pengantar PPh dan subjek pajak.

Apa itu PPh?

Pajak penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan kepada Orang Pribadi atau Badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam satu Tahun Pajak. Yang termasuk penghasilan adalah setiap tambahan ekonomis, baik berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia, yang dapat digunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak dengan nama dan bentuk apapun juga.

Intinya, setiap penghasilan yang digunakan untuk konsumsi atau dapat menambah kekayaan Wajib Pajak dikenai PPh (kecuali bila diatur sebaliknya). Ruang lingkup PPh meliputi semua jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dari dalam maupun luar negeri (world wide income). Tetapi, ada perbedaan pemajakan antara Subjek Pajak Dalam Negeri dan Subjek Pajak Luar Negeri.

Subjek Pajak

Menurut Mansury, subjek pajak adalah subjek hukum yang oleh Undang-undang diberi kewajiban perpajakan. Mudahnya, subjek pajak adalah orang-orang harus membayar pajak, memotong/memungut pajak, menyetor pajak, dan melaporkan SPT.

Yang termasuk subjek pajak menurut Pasal 2 (1) UU PPh adalah Orang Pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, Badan, dan Bentuk Usaha Tetap (BUT).  Continue reading “Seri PPh: Subjek Pajak”

Impresi: Noragami

Noragami_1_cover_IND

“I’m delivery god Yato!” — Yato

Tak banyak yang tahu eksistensi anime Noragami, apalagi komiknya. Anime-nya kalah populer dengan Nisekoi dan Chuunibyo yang tayang berbarengan dan manga-nya, yang diterbitkan oleh Kodansha, masih tertinggal di belakang Ajin dan Prison School. Terlepas dari betapa underappreciated-nya Noragami, Adachitoka telah melakukan pekerjaan yang sangat baik.

Noragami berpusat pada kisah tentang Yato, seorang dewa minor yang sama sekali tidak terkenal. Ia miskin, tidak punya pengikut dan kuil pribadi, dan baru saja kehilangan senjata dewanya. Masalah bertambah ketika ia secara tidak sengaja bertemu dengan Iki Hiyori, seorang siswi SMP biasa, dan mengubah gadis tersebut menjadi setengah ayakashi.

Semesta dewa-dewi dalam mitologi Jepang bukanlah sesuatu yang asing di dunia manga. Penggunaan senjata dewa pun dapat dijumpai di komik-komik lain, seperti Soul Eater. Yang membedakan karya Adachitoka dengan komik-komik lain adalah penulisan cerita yang rapi dan dilengkapi dengan karakterisasi yang mendalam serta menarik.  Continue reading “Impresi: Noragami”

Live Action dan Segala Permasalahannya

Berkembangnya teknologi CGI membawa warna baru dalam dunia perfilman dan membuat beberapa sineas kehilangan ide untuk membuat film orisinal bertekad membawa dunia fantasi dalam buku, komik, game, maupun kartun ke dalam film adaptasi live action. Keputusan untuk membuat film adaptasi selalu membawa kontroversi. Ada yang antusias, namun lebih banyak yang pesimis.

Golongan pesimis memiliki banyak alasan untuk menolak film adaptasi. Fans hardcore menolak karena perbedaan plot antara adaptasi dengan yang asli. Yang lain menolak karena tak mau melihat sejarah buruk terulang. Ada juga yang menolak karena membenci whitewashing.

Secara pribadi saya termasuk golongan pesimis. Menurut saya, kru film adaptasi memiliki kecenderung malas dalam menulis skrip, membangun atmosfer film, atau merekrut aktor yang mumpuni. Kecenderungan malas tersebut mungkin disebabkan karena kru film tidak memiliki banyak dana, kekurangan SDM yang berkualitas, tidak ingin menghabiskan waktu lama untuk riset lebih jauh, atau karena alasan yang paling mengerikan: yang penting filmnya laku dan hype karena punya fan base besar. Tentu saja hal-hal tersebut tidak dapat digunakan untuk menggeneralisasi karena beberapa live action seperti The Jungle Book atau Rurouni Kenshin cukup memuaskan saya.

Lalu, faktor apa saja yang membuat suatu film live action hancur lebur?

Salah dalam memilih karya yang akan diadaptasi

Ada beberapa karya yang terlalu aneh bila dibuat film live action. Bayangkan Soul Eater dan teman-temannya dalam wujud manusia asli atau live action Devil May Cry dengan efek CGI dan skrip yang payah (dan aktor yang tidak se-hot Dante). Para sineas harus jeli dalam memilih karya mana yang akan diadaptasi. Bila dana terbatas, maka pilihlah karya yang sekiranya tidak perlu memerlukan banyak efek.

soul eater socplay
No. Just no

Continue reading “Live Action dan Segala Permasalahannya”

Sistem Perpajakan Indonesia

Akhir-akhir ini publik sedang ramai membicarakan tentang pajak. Sebagai salah satu orang yang sering mengamati situasi di media sosial, saya mendapatkan fakta bahwa masih banyak orang yang belum memahami sistem perpajakan di Indonesia. Oleh karenanya, saya tertarik untuk membuat suatu seri perpajakan di blog ini dan postingan ini adalah pengantarnya sebelum kita melangkah lebih jauh.

Apa itu Pajak?

Menurut Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU Nomor 16 Tahun 2009 (untuk selanjutnya kita sebut UU KUP), Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Ringkasnya, pajak adalah kontribusi wajib yang bersifat memaksa. Imbalan dari membayar pajak sendiri tidak didapatkan secara langsung, melainkan lewat penggunaan pajak seperti pembangunan jalan raya, perbaikan jembatan, subsidi BBM, dan berbagai fasilitas lain yang disediakan oleh pemerintah.  Continue reading “Sistem Perpajakan Indonesia”