Posted in Perspektif

Live Action dan Segala Permasalahannya

Berkembangnya teknologi CGI membawa warna baru dalam dunia perfilman dan membuat beberapa sineas kehilangan ide untuk membuat film orisinal bertekad membawa dunia fantasi dalam buku, komik, game, maupun kartun ke dalam film adaptasi live action. Keputusan untuk membuat film adaptasi selalu membawa kontroversi. Ada yang antusias, namun lebih banyak yang pesimis.

Golongan pesimis memiliki banyak alasan untuk menolak film adaptasi. Fans hardcore menolak karena perbedaan plot antara adaptasi dengan yang asli. Yang lain menolak karena tak mau melihat sejarah buruk terulang. Ada juga yang menolak karena membenci whitewashing.

Secara pribadi saya termasuk golongan pesimis. Menurut saya, kru film adaptasi memiliki kecenderung malas dalam menulis skrip, membangun atmosfer film, atau merekrut aktor yang mumpuni. Kecenderungan malas tersebut mungkin disebabkan karena kru film tidak memiliki banyak dana, kekurangan SDM yang berkualitas, tidak ingin menghabiskan waktu lama untuk riset lebih jauh, atau karena alasan yang paling mengerikan: yang penting filmnya laku dan hype karena punya fan base besar. Tentu saja hal-hal tersebut tidak dapat digunakan untuk menggeneralisasi karena beberapa live action seperti The Jungle Book atau Rurouni Kenshin cukup memuaskan saya.

Lalu, faktor apa saja yang membuat suatu film live action hancur lebur?

Salah dalam memilih karya yang akan diadaptasi

Ada beberapa karya yang terlalu aneh bila dibuat film live action. Bayangkan Soul Eater dan teman-temannya dalam wujud manusia asli atau live action Devil May Cry dengan efek CGI dan skrip yang payah (dan aktor yang tidak se-hot Dante). Para sineas harus jeli dalam memilih karya mana yang akan diadaptasi. Bila dana terbatas, maka pilihlah karya yang sekiranya tidak perlu memerlukan banyak efek.

soul eater socplay
No. Just no

Continue reading “Live Action dan Segala Permasalahannya”

Advertisements
Posted in Perpajakan

Sistem Perpajakan Indonesia

Akhir-akhir ini publik sedang ramai membicarakan tentang pajak. Sebagai salah satu orang yang sering mengamati situasi di media sosial, saya mendapatkan fakta bahwa masih banyak orang yang belum memahami sistem perpajakan di Indonesia. Oleh karenanya, saya tertarik untuk membuat suatu seri perpajakan di blog ini dan postingan ini adalah pengantarnya sebelum kita melangkah lebih jauh.

Apa itu Pajak?

Menurut Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU Nomor 16 Tahun 2009 (untuk selanjutnya kita sebut UU KUP), Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Ringkasnya, pajak adalah kontribusi wajib yang bersifat memaksa. Imbalan dari membayar pajak sendiri tidak didapatkan secara langsung, melainkan lewat penggunaan pajak seperti pembangunan jalan raya, perbaikan jembatan, subsidi BBM, dan berbagai fasilitas lain yang disediakan oleh pemerintah.  Continue reading “Sistem Perpajakan Indonesia”

Posted in Perpajakan

Menyoal Pajak untuk Penulis

Beberapa hari belakangan, netizen ramai-ramai membicarakan soal pajak untuk profesi penulis. Pemicunya adalah tulisan Tere Liye yang isinya mengeluhkan pajak royalti yang dianggapnya terlalu tinggi, lalu netizen banyak yang merespon. Sebenarnya Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah memberikan klarifikasi dan penjelasan melalui situs pajak.go.id dan akun twitter resmi DJP (@DitjenPajakRI), tetapi tampaknya banyak netizen yang belum mengerti aspek perpajakan untuk penulis secara utuh.

DJCpW72VAAEsQ7m

Lalu, bagaimana aspek perpajakan untuk penulis yang sebenarnya?  Continue reading “Menyoal Pajak untuk Penulis”

Posted in Impresi

Impresi: Lelaki Harimau

lelaki-harimau

“Bukan aku,” kata Margio tenang dan tanpa dosa. “Ada harimau dalam tubuhku.”

Saya masih ingat sensasi yang pertama kali saya rasakan ketika membaca paragraf pembuka novel karya Eka Kurniawan ini. Seketika badan saya membeku dan mata saya langsung terbuka lebar-lebar. Begitulah kiranya pembuka yang ditawarkan Eka Kurniawan: lugas dan tangkas. Mengutip pendapat The New York Times, Kurniawan mengungkapkan pembunuh dan korbannya dalam satu kalimat di awal novel. Saya belum pernah menemukan model pembuka novel semacam itu di novel-novel lain, bahkan dalam novel misteri sekalipun.

Lelaki Harimau bercerita tentang Margio, seorang pemuda yang membunuh tetangganya, Anwar Sadat, dengan cara paling bengis dan primitif. Tetapi bukan pembunuhan itu yang menjadi center novel ini, melainkan kilasan-kilasan balik para tokoh yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan tersebut. Novel ini bukan novel macam Poirot atau Holmes yang termasuk jenis crime novel. Lelaki Harimau sama sekali tidak peduli pada sudut pandang kriminalitas—ia hanya melihat lewat kaca mata psikologis para tokohnya.  Continue reading “Impresi: Lelaki Harimau”

Posted in Impresi

Impresi: Ascension

20170901_210129

CD yang membuat pintar” berjudul “Trigger” menjadi tren di kalangan siswa SMP dan SMA. Namun, mereka yang mendengarnya mulai mengalami kejadian aneh dan bertindak aneh.

Sinopsis di atas merupakan modal nekat saya dalam membeli Ascension. Saya bilang nekat karena sebelumnya belum pernah mendengar judul komik tersebut maupun mangaka-nya, Mizuki Watanabe.

Ascension dibuka dengan menawarkan sebuah premis yang menarik: adanya suatu software musik bernama Trigger yang dapat membuat siswa-siswa mendadak cerdas. Entah darimana munculnya Trigger ini, tetapi kemunculannya memicu kegegeran di kalangan anak-anak SMA. Selain efek ‘jenius mendadak’ yang dimunculkannya, belakangan banyak pengguna Trigger yang tiba-tiba menghilang. Salah satu siswa yang menghilang adalah Hayato. Hal ini membuat Chitose memutuskan untuk menyelidiki hilangnya Hayato.  Continue reading “Impresi: Ascension”

Posted in Impresi

Impresi: 1Q84

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik. Luka tidak selalu mengeluarkan darah.

1Q84

Apa yang Anda bayangkan ketika pertama kali melihat sebuah novel berjudul 1Q84? Mungkin Anda membayangkan sebuah cerita fiksi saintifik berbalut teori konspirasi atau cerita bertema dunia mata-mata. Tetapi, percayalah, Anda takkan mampu membayangkan apapun ketika membaca novel buatan Haruki Murakami ini.

Bab pertama novel ini membawa saya pada bayangan kehidupan seorang pembunuh bayaran. Seketika Anda membayangkan cerita bertema kriminal. Lalu, saya tiba pada bab kedua dan tiba-tiba menemui tokoh kedua dengan sisi kehidupan yang sangat berbeda dengan tokoh pertama. Kedua tokoh tersebut menjalani kehidupan yang sangat drastis perbedaannya hingga saya tidak mampu menemukan pertalian keduanya. Membaca 1Q84 sama seperti membaca dua novel yang berbeda—setidaknya itulah yang saya rasakan hingga saya mencapai pertengahan buku.  Continue reading “Impresi: 1Q84”

Posted in Esai, Perpajakan, PKN STAN

Penyebab, Dasar, dan Efektivitas Penagihan Pajak

Menurut Pasal 1 ayat (9) UU Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, penagihan pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan dan menjual barang yang telah disita.

Alur Penagihan Pajak

Penagihan pajak dimulai dengan diterbitkannya Surat Teguran atau surat peringatan lain tujuh hari setelah jatuh tempo pelunasan utang pajak yang tertera dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, atau surat ketetapan lain. Jika Wajib Pajak tidak melunasi utang pajaknya dalam waktu dua puluh satu hari setelah diterbitkan Surat Teguran atau surat peringatan lain, Direktorat Jenderal Pajak akan menerbitkan Surat Paksa.

Selain untuk menindaklanjuti penerbitan Surat Teguran atau surat peringatan lain, penerbitan Surat Paksa dapat dilakukan untuk menindaklanjuti penagihan seketika dan sekaligus atau pelanggaran ketentuan dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak oleh Wajib Pajak.

Surat Paksa yang telah diterbitkan harus dilunasi oleh Penanggung Pajak dalam waktu dua kali dua puluh empat jam. Jika dalam jangka waktu tersebut utang pajak tidak dilunasi, Direktorat Jenderal Pajak berhak menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP). Penyitaan dilakukan untuk menguasai barang milik Penanggung Pajak guna dijadikan jaminan pelunasan utang pajak.

Setelah penyitaan, alur berikutnya adalah pengumuman lelang yang dilaksanakan paling lambat empat belas hari setelah penyitaan. Kemudian ada pelaksanaan lelang yang dilaksanakan paling lambat empat belas hari setelah pengumuman lelang.  Continue reading “Penyebab, Dasar, dan Efektivitas Penagihan Pajak”